YABI

Gigi Anak Cerebral Palsy Terancam Rusak Parah, Residen UNPAD Uji Solusi Probiotik

BANDUNG – Di tengah tantangan pengasuhan anak berkebutuhan khusus, kesehatan gigi dan mulut pada anak penderita Cerebral Palsy (CP) ternyata menyimpan masalah serius yang jarang terungkap. Mayoritas anak CP di Indonesia berisiko tinggi mengalami penyakit gusi dan kerusakan gigi parah, yang berdampak langsung pada kualitas hidup mereka.

Diwakilili oleh tiga dokter gigi muda yang sedang menempuh pendidikan Residen di Departemen Kedokteran Gigi Anak Universitas Padjadjaran (UNPAD), yaitu drg. Cut Meutia, drg. Aulia Riski, dan drg. Harika Ixzarina, kini turun langsung ke lapangan untuk mencari solusi konkret.

Salah satunya, drg. Harika Ixzarina menjelaskan alasan mengapa anak CP menjadi kelompok yang paling rentan terhadap masalah gigi dan mulut. Masalahnya bukan hanya pada kebersihan, tetapi juga pada kondisi medis yang menyertai.

“Anak CP itu sering menderita epilepsi, sehingga mereka rutin mengonsumsi obat anti-kejang atau antikonvulsan,” jelas drg. Harika. “Menurut studi, obat ini dapat memicu pembengkakan dan peradangan pada gusi (gingivitis). Masalahnya berlipat ganda karena anak-anak ini juga kesulitan menyikat gigi sendiri akibat gangguan motorik.” Kata dia.

Anak-anak yang sudah rentan terhadap peradangan gusi harus bergantung sepenuhnya pada bantuan orang tua untuk membersihkan mulut mereka. Jika perawatan tidak maksimal, gusi bengkak dan berdarah adalah risiko yang sangat besar.

Data menunjukkan, sekitar 20 hingga 50 persen anak di dunia menderita penyakit gusi. Pada anak CP, persentasenya bisa jauh lebih tinggi. “Prevalensi ini mengkhawatirkan karena mulut adalah pintu masuk utama nutrisi,” tambahnya.

Dua Jalur Penelitian: Probiotik dan Deteksi Inflamasi

Penelitian yang bekerja sama dengan Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI) ini mengambil dua pendekatan unik:

  1. Probiotik untuk Pertahanan Gusi (Kelompok drg. Cut Meutia)

Kelompok pertama fokus menguji manfaat probiotik. Dalam penelitian ini, anak CP (khususnya yang kondisinya relatif ringan dan mampu menghisap tablet) akan mengonsumsi tablet probiotik setiap malam sebelum tidur selama satu bulan.

“Kami mencari alternatif terapi pendukung,” ungkap drg. Cut Meutia. “Jika sikat gigi tidak bisa 100% sempurna, kami berharap probiotik dapat membantu mengurangi plak dan menyehatkan gusi. Pemberiannya malam hari agar probiotik bisa kontak lama dengan gigi dan gusi saat anak tidur.”

  1. Mengukur Keparahan Peradangan (Kelompok drg. Aulia Riski)

Sementara itu, drg. Aulia Riski dan tim bertugas mengukur sejauh mana peradangan sudah terjadi. Mereka mengambil sampel cairan gusi dari area yang paling parah dan menganalisis kadar zat peradangan ($MP-8$) di laboratorium.

“Proses pengambilan sampelnya menantang. Kami harus didukung beberapa asisten untuk memastikan anak tetap tenang dan sampel tidak terkontaminasi oleh gerakan refleks motorik yang tiba-tiba,” cerita drg. Harika, menggambarkan sulitnya proses teknis di lapangan.

 

Tembok Biaya dan BPJS: Perawatan Terbentur Operasi

Masalah terbesar yang dihadapi para residen ini bukanlah sulitnya pengambilan sampel, melainkan akses terhadap perawatan lanjutan.

Menurut para dokter, jika gigi anak CP sudah rusak parah (misalnya gigi berlubang besar, sisa akar, atau infeksi luas), penanganannya seringkali tidak bisa dilakukan di kursi dokter gigi biasa. Anak CP, terutama yang kondisinya berat, tidak kooperatif dan memerlukan prosedur di ruang operasi dengan sedasi atau bius total.

“Biaya sedasi intravena saja bisa mencapai dua juta rupiah, dan itu hanya untuk menenangkan anak di kursi dokter gigi agar perawatan bisa selesai sekali datang,” kata drg. Harika. “Ini belum termasuk biaya operasi yang jauh lebih besar. Sayangnya, banyak prosedur ini terbentur kendala BPJS.”

Akibatnya, banyak orang tua dari kalangan menengah ke bawah terpaksa menghentikan pengobatan, membiarkan masalah gigi anak mereka terbengkalai.

Setelah pengambilan data selesai, para peneliti berharap hasil temuan mereka dapat mendorong perubahan signifikan.

  1. Peningkatan Kesadaran Orang Tua (Awareness): Para dokter menekankan bahwa orang tua harus lebih sadar bahwa kondisi mulut anak adalah cerminan kesehatan. “Gigi yang sakit membuat anak tidak mau makan, berujung pada malnutrisi. Ini adalah lingkaran setan,” ujar drg. Cut Meutia.
  2. Penyuluhan Dini: Perlu ada peningkatan penyuluhan di Posyandu dan Puskesmas agar orang tua dapat melakukan deteksi dini masalah pada ABK, bukan hanya CP.
  3. Aksi Pemerintah: Diharapkan pemerintah dan pembuat kebijakan dapat meninjau ulang fasilitas dan dukungan pembiayaan, terutama yang terkait BPJS, untuk prosedur perawatan gigi kompleks bagi anak berkebutuhan khusus.

“Mereka adalah minoritas yang membutuhkan perhatian serius. Kami berharap penelitian ini bisa menjadi dorongan agar masalah ini tidak lagi dianggap aib atau diabaikan, dan agar anak-anak ini mendapat senyum dan kualitas hidup yang lebih baik,” tutup drg. Harika Ixzarina.

Share Artikel Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *